-->

Cerpen: Makna Dari Sebuah Persahabatan

06 September 2014




                Tepat diujung sekolah sebuah taman yang ditumbuhi oleh bunga-bunga indah, aku dan sahabat-sahabatku, sebut saja “COTIX” kita bernyanyi bersama, bersenda gurau, menikmati hari-hari kita dengan penuh canda dan tawa. Aku bahagia sekali memiliki sahabat seperti mereka. Mereka adalah keluarga keduaku. Kini, kami telah duduk di kelas 3 SMP. 2 tahun sudah kita lewati hari-hari bersama, hingga kini tiba waktunya kita harus mempersiapkan diri untuk meraih cita-cita kita yaitu lulus dengan  nilai tinggi dengan hasil sendiri. Hari demi hari kita lewati, Ujian Nasional pun sudah menanti. Aku selalu mengharapkan yang terbaik untuk kita semua. Ada salah satu sahabatku yang bernama Arinda, ya dia memang pintar, kita pun meminta kepada Arin untuk mengajarkan kita. Penambahan materi disekolah pun semakin padat atau pun semakin sibuk dengan tumpukan soal-soal tahun lalu yang diberikan oleh guruku, sehingga tak ada waktu untuk bermain.
                Waktu yang menegangkan pun tiba. Ujian nasional akan segera dilaksanakab. Pagi yang cerah tetapi terasa kelabu oleh para pelajar yang ingin melaksanakan ujian. Sebelum lonceng  masuk berbunyi, aku dan sahabat-sahabatku berkumpul bersama disalah satu kelas yang berada disekolahku. Kami semua bedoa dan mengharapkan kemudahan dari Allah untuk mengerjakan soal ujian nanti dengan lancar. Lonceng pun berbunyi dan pertanda bahwa ujian nasional akan segera dimulai. Usai sudah usahaku pada hari ini, dan akupun kembali menyiapkan persiapan untuk hari selanjutnya. Waktu pun terus berjalan dan berjalan hingga akhirnya selesai sudah usahaku dan akupun siap untuk menunggu hasil dari usahaku selama ini.
                Hari-hari yang ditunggu-tunggu tiba yaitu hari penentuan kelulusan. Sekolahku mengadakan acara pentas seni di sekolah. Semua siswa kelas 9 diwajibkan mengenakan pakaian adat seperti kebayadan untuk putra dapat mengenakan jas atau baju adat lainnya. Pada hari itu, semua tampak cantik dan tampan, tetapi terlihat ada rauk wajah kepanikan disetiap orang. Berbagai acara ditampilkan disana, mulai dari pembacaan puisi, bernyanyi, sampai menaripun ada. Ada beberapa dari  sahabatku  ikut mengisi acara, tampil dengan suaranya yang indah dan kelancarannya dalam bermusik.
                Detik-detik yang ditunggu pun tiba dimana akan diumumkan tentang kelulusan. ada 10 nilai terbesar. Pada saat kepala sekolah berkata “SMPN 259 LULUS 100%” dengan rasa bangga akupun menangis. Kita semua menangis gembira. Aku tak ragu langsung memeluk sahabat-sahabatku dengan penuh rasa bangga. 4 orang dari kami mendapat penghargaan untuk 10 nilai terbesar. Aku dan cotix merayakan kemenangan ini bersama-sama. Kami habiskan waktu libur bersama.
                Tak terasa liburanpun berlalu, sekarang waktunya aku mendaftar disekolah baru, begitu pula halnya dengan teman-temanku. Akupun sudah menduduki bangku SMK. Tak terasa waktu pun semakin cepat. Kesibukan membuat aku dan sahabat-sahabatku tidak bisa meluangkan waktu bersama. Hari demi hari aku lewati. Kami berkumpul bersama kurang lebih 1 minggu 2 kali, ya tidak sesering dulu. Tetapi waktu yang padat tidak menjadi alasanku untuk jauh dari mereka. Salah satu dari kami, yakni bernama Iin. Ia mengalami sakit sudah cukup lama. Awalnya dia terkena types, tetapi sering berjalannya waktu ia tak kunjung sembuh hingga akhirnya ia terkena DBD. Iin dirawat di RS. Polri. Kami pun selalu berusaha untuk meluangkan waktu dengan datang menjengut Iin. Terdengar bahwa penyakit yang dideritanya semakin parah. Iin pun dipindahkan ke RS. Mitra Keluarga Cibubur. Aku sangat sedih. Iin adalah sahabatku dari SD hingga sebesar ini. Aku selalu berharap yang terbaik. Akupun menyempatkan waktu untuk berbuka puasa di rumah sakit tempat Iin dirawat. Aku bingung, ucapannya semakin lama semakin aneh. “Bel sakit bel, enggak kuat” ucapnya. Mulutnya yang sulit dibuka membuat ia tidak bisa makan, Ia selalu berkata “Bel kangen Mamah, kangen kumpul sama kalian.” Kebetulan, mamahnya sudah meninggal.
                Tepat tanggal 13 Juli, aku mendapat kabar bahwa Iin masuk ruang ICU. Aku dan cotix pun pergi ke rumah sakit untuk melihat Iin. Mulut yang penuh dengan alat, badan yang pucat, tak sadarkan diri, berbaring lemah dengan selang yang penuh darah. Kami tiba pukul 10 pagi dan ternyata boleh menjenguknya pukul 17.00 WIB. Kami pun menunggu hingga kami dapat melihat, walaupun hanya 5 menit dan tidak semua dapat melihat. Aku masuk ruang ICU. Tak sadar air mataku jatuh melihat keadaan Iin. Keesokan harinya pukul 05.00 ada orang datang kerumah ku. Ia berkata “Maaf ini rumahnya Bella? Saya mau kabarin kalau Iin sudah tidak ada” akupun hanya diam. Aku tak menyangka bisa secepat ini. Aku ambil handphone dan ternyata BBM ku sudah penuh dengan kabar Iin. Aku langsung menangis tak henti. Aku pun tak ragu mengajak cotix untuk pergi melihat Iin untuk yang terakhir kalinya.
                Setibanya di kediaman Iin, aku tak kuat menahan air mata. Begitu sakit ketika harus kehilangan sahabat untuk terakhir kalinya. Jenazah pun dimandikan, dan siap untuk dikafankan. Tak henti aku dan sahabatku menangis, masih tidak dapat dipercaya kalau dia harus pergi secepat ini. Liang lahat pun sudah dipersiapkan,tidak kuat rasanya. Ketika semua sudah pulang dan pemakaman sudah selesai. Aku dan cotix bergantian meletakkan bunga terakhir dan mencium batu nisannya. Masih tidak menyangka akan seperti ini. Ketika kita melihat ke makam Ibunya Iin, ternyata tanggal yang sama yaitu 14 Juli. Sebuah keunikan, dan mungkin anugerah untuk Iin. 14 bunga dari 14 sahabat, ditanggal 14 dan ditahun 2014.
                Semenjak kejadian tanggal 14 tersebut, kita menjadi mengerti apa itu sahabat. Kita jadi lebih bisa menghargai waktu-waktu yang ada ketika bersama. Karena sahabat bukan hanya disaat kita “ada” melainkan juga ada dikala kita sudah tak bisa “apa-apa”

-selesai-

Cerpen by Bella Zulkarnain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon Bijak dalam Berkomentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS